TUGAS TEORI
ORGANISASI UMUM(TOU)
·
Pengertian
konflik organisasi
·
Jenis
dan sumber konflik
·
Strategi
penyelesaian konflik
·
Contoh
konflik dan cara penyelesaiannya
Disusun oleh :
NAMA : RICHARD A DEPPASAU
NPM :19114242
KELAS :2KA07
1.
Pengertian
konflik organisasi
Konflik berasal
dari kata kerja Latin configure yang berarti saling memukul. Secara sosiologis
,konflik diartikan sebagai suatu proses social antara dua orang atau lebih(bisa
juga kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan
menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya.
Konflik
organisasi (organizational conflik) adalah
ketidaksesuaian antara dua atau lebih anggota-anggota kelompok organisasi yang
harus membagi sumber daya terbatas atau kegiatan-kegiatan kerja atau karena
kenyataan bahwa mereka mempunyai perbedaan status,tujuan,nilai,dan persepsi.
2.
Jenis
dan sumber konflik
Ada lima jenis konflik dalam kehidupan
organisasi, yaitu:
1. Konflik dalam diri individu, yang terjadi bila seorang individu menghadapi ketidakpastian tentang pekerjaan yang dia harapkan untuk melaksanakannya, bila berbagai permintaan pekerjaan saling bertentangan, atau bila individu diharapkan untuk melakukan lebih dari kemampuannya.
2.
Konflik antar individu dalam organisasi yang sama. Hal ini sering
disebabkan oleh perbedaan- perbedaan kepribadian. Konflik ini juga berasal dari
adanya konflik antar peranan seperti antara manajer dan bawahan.
3.
Konflik antar individu dan kelompok, yang berhubungan dengan cara individu
menanggapi tekanan untuk keseragaman yang dipaksakan oleh kelompok kerja
mereka, seperti seorang individu dihukum atau diasingkan oleh kelompok kerjanya
karena melanggar norma- norma kelompok.
4.
Konflik antar kelompok dalam organisasi yang sama. Karena terjadi
pertentangan kepentingan antar kelompok.
5. Konflik
antar organisasi, yang timbul sebagai akibat bentuk persaingan ekonomi
dalam sistem perekonomian suatu negara. Konflik ini telah mengarahkan timbulnya
pengembangan produk baru, teknologi, harga- harga lebih rendah, dan penggunaan
sumber daya yang lebih efisien.
Faktor- faktor penyebab konflik
beraneka ragam, yaitu:
1. Komunikasi: pengertian yang berkenaan dengan kalimat, bahasa yang sulit dimengerti atau informasi yang mendua dan tidak lengkap serta gaya individu manajer yang tidak konsisten.
1. Komunikasi: pengertian yang berkenaan dengan kalimat, bahasa yang sulit dimengerti atau informasi yang mendua dan tidak lengkap serta gaya individu manajer yang tidak konsisten.
2. Struktur: Pertarungan kekuasaan
antar departemen dengan kepentingan- kepentingan atau sistem penilaian yang
bertentangan, persaingan untuk memperebutkan sumber daya yang terbatas, atau
saling ketergantungan dua atau lebih kelompok- kelompok kegiatan kerja untuk
mencapai tujuan mereka.
3. Pribadi: ketidaksesuaian tujuan
atau nilai- nilai social pribadi karyawan dengan perilaku yang diperankan pada
jabatan mereka dan perbedaan dalam nilai- nilai atau persepsi.
4. Kelangkaan sumber daya dan dana
yang langka. Hal ini karena suatu individu atau organisasi yang memiliki sumber
daya dan dana yang terbatas.
5. Saling ketergantungan
pekerjaan.
6. Ketergantungan pekerjaan satu
arah. Berbeda dengan sebelumnya, ketergantungan pekerjaan satu arah berarti
bahwa keseimbangan kekuasaan telah bergeser, konflik pasti lebih tinggi karena
unit yang dominan mempunyai dorongan yang sedikit saja untuk bekerja sama
dengan unit yang berada di bawahnya.
7. Ketidakjelasan tanggung jawab
atau yurisdiksi. Dalam hal tertentu, pada dasarnya orang memang tidak ingin
bertanggung jawab, terlebih mengenai hal- hal yang berakibat tidak atau kurang
menguntungkan. Apabila hal ini menyangkut beberapa pihak dan masing- masing
tidak mau bertanggung jawab maka kejadian seperti ini dapat menimbulkan
konflik.
8. Ketidakterbukaan terhadap satu
sama lain
9. Ketidaksalingpercaya antara
satu orang dengan orang lain dalam organisasi.
10. Ketidakjelasan pola
pengambilan keputusan, pola pendelegasian wewenang, mekanisme kerja dan
pembagian tugas.
11. Kelompok pimpinan tidak
responsitif terhadap kebutuhan dan aspirasi para bawahannya.
12. Adanya asumsi bahwa dalam organisasi
terdapat berbagai kepentingan yang diperkirakan tidak dapat atau sulit
diserasikan
3. Strategi penyelesaian konflik
Strategi
Penyelesaian Konfliknya. Yang pertama adalah adanya pendekatan terhadap konflik
yang dialami pendekatan yang dilakukan diantaranya:
1.
Menghindar
Menghindari
konflik dapat dilakukan jika isu atau masalah yang memicu konflik tidak terlalu
penting atau jika potensi konfrontasinya tidak seimbang dengan akibat yang akan
ditimbulkannya. Penghindaran merupakan strategi yang memungkinkan pihak-pihak
yang berkonfrontasi untuk menenangkan diri.namun pendekatan ini menurut saya
kurang baik,kenapa ? kalau kita menghindari konflik yang terjadi bukankah
nantinya malah akan menimbulkan konflik yang lebih besar. Lebih baik menerima
konflik tersebut lalu meluruskan permasalahannya lalu diskusikan agar tidak
menimbulkan masalah yang lebih besar.
2.
Mengakomodasi
Memberi
kesempatan pada orang lain untuk mengatur strategi pemecahan masalah, khususnya
apabila isu tersebut penting bagi orang lain. Hal ini memungkinkan timbulnya
kerjasama dengan memberi kesempatan pada mereka untuk membuat keputusan.
Perawat yang menjadi bagian dalam konflik dapat mengakomodasikan pihak lain
dengan menempatkan kebutuhan pihak lain di tempat yang pertama.
3.
Kompetisi
Gunakan
metode ini jika anda percaya bahwa anda memiliki lebih banyak informasi dan
keahlian yang lebih dibanding yang lainnya atau ketika anda tidak ingin
mengkompromikan nilai-nilai anda. Metode ini mungkin bisa memicu konflik tetapi
bisa jadi merupakan metode yang penting untuk alasan-alasan keamanan.
4.
Kompromi
atau Negosiasi
Masing-masing
memberikan dan menawarkan sesuatu pada waktu yang bersamaan, saling memberi dan
menerima, serta meminimalkan kekurangan semua pihak yang dapat menguntungkan
semua pihak.
5.
Memecahkan
Masalah atau Kolaborasi
Pemecahan
sama-sama menang dimana individu yang terlibat mempunyai tujuan kerja yang sama
dalam penyelesain masalahnya.
4.
Contoh konflik dan peyelesaiannya
Konflik anak-anak yang putus sekolah dikarenakan membantu
orang tuanya.
Banyak anak usia wajib belajar yang putus sekolah karena
harus bekerja. Kondisi itu harusnya menjadi perhatian pemerintah karena anak
usia wajib belajar mesti menyelesaikan pendidikan SD-SMP bahkan SMA tanpa
hambatan termasuk persoalan biaya. Berdasarkan data survei yang dilaporkan oleh
Badan Pusat Statistik pada 2006 bahwa tercatat anak usia 10-17 tahun telah
menjadi pekerja sebanyak 2,8 juta anak.Dari hasil studi anak, ditemukan bahwa
anak-anak usia 9-15 tahun terlibat dengan berbagai jenis pekerjaan yang
berakibat buruk terhadap kesehatan fisik, mental, emosional dan seks.
Awalnya mereka hanya sekedar membantu orang tua, tetapi
kemudian terjebak menjadi pekerja permanen lalu sering bolos sekolah dan
akhirnya putus sekolah.
Solusi untuk cara penanganannya :
Bagi anak-anak miskin, Bantuan Operasional Sekolah (BOS)
saja belum cukup. Semestinya pemerintah serta pihak sekolah memikirkan untuk
memberikan beasiswa tambahan untuk pembelian seragam dan alat tulis serta biaya
transportasi dari rumah ke sekolah agar anak-anak usia wajib belajar tidak
terbebani dengan biaya pendidikan dan pada akhirnya harus kehilangan kesempatan
untuk menggali ilmu dan harus meninggalkan dunia sekolah untuk bekerja.
DAFTAR PUSTAKA:



Komentar
Posting Komentar